PERTEMUAN KONSOLIDASI RELAWAN PEMENANGAN PILKADA DKI 2017

PERTEMUAN KONSOLIDASI RELAWAN PEMENANGAN PILKADA DKI 2017

JAKARTA - Seknas JOKOWI yang merupakan relawan Pemenangan Jokowi pada pilpres 2014 yang lalu berkonsolidasi untuk pemenangan calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat (Djarot) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017. "Pertemuan konsolidasi ini bertujuan untuk memenangkan Ahok," kata ketua umum Seknas JOKOWI M. Yamin dalam sambutan pembukaannya di kantor sekretariatan nawacita Seknas JOKOWI di jalan Cirebon No.23, Menteng-Jakarta Pusat. Senin,03 Oktober 2016. M. Yamin menyerukan seluruh pendukung Jokowi di Pilpres 2014 yang lalu dari unsur relawan maupun akademisi harus berkolaborasi untuk berjalan bersama memenangkan Ahok menjadi Gubernur di pilkada 2017 nanti. Sementara itu Sekjen Seknas JOKOWI Osmar Tanjung menyatakan tim pendukung harus membuat formulasi dalam upaya memenangkan Ahok melalui pertemuan yang intens. ketua Seknas JOKOWI DKI Monisyah yang hadir dalam pertemuan konsolidasi tersebut menambahkan forum pertemuan relawan Seknas JOKOWI untuk yang kedua kalinya ini harus aktif dan fokus dan diatur satu atap dalam melakukan kerja-kerja dalam menyusun dan kegiatan-kegiatan aksi mengkampanyekan Ahok - Djarot. Dalam Forum ini Selain Ketua Umum Seknas JOKOWI M. Yamin, pertemuan tersebut dihadiri Sekjen JOKOWI Osmar Tanjung,Ketua Seknas JOKOWI DKI Monisyah serta 50an lebih relawan Seknas JOKOWI se-DKI dan Kepulauan Seribu. (Seknas JOKOWI)

Dari Diskusi Publik Seknas Jokowi: Bom Waktu di Ring Semanggi

Dari Diskusi Publik Seknas Jokowi: Bom Waktu di Ring Semanggi

JAKARTA- Pembangunan simpang susun Semanggi  yang sudah dimulai sejak April 2016 lalu dikuatirkan akan menjadi bom waktu bagi  kemacetan yang lebih parah di ibukota Jakarta. Untuk itu, Pemprov DKI Jakarta diminta mengkaji ulang rencana pembangunan ring Semanggi tersebut dengan melibatkan partisipasi warga. Demikian pendapat  yang mengemuka dalam diskusi public bertajuk  “Kota Jakarta Milik Kita Semua: Bom Waktu Ring Semanggi” yang digelar DPN Seknas Jokowi di  Kantor Kawal Nawacita Jl. Cirebon 23, Menteng Jakarta Pusat  pada Selasa (12/7/2016). Diskusi yang dipandu oleh Nazaruddin Ibrahim ini menghadirkan narasumber utama: Peter Yan. Dipl.-Ing, Ketua Organisasi Pengemudi Seluruh Indonesia (OPSI). Menurut Peter Yan, pembangunan simpang susun Semanggi dimaksudkan untuk melancarkan lalu-lintas yang melintasi jalan protocol itu, terutama memenuhi kebutuhan persiapan Asian Games 2018. "Namun pembangunan ring Semanggi ini akan sia-sia,  tidak akan bisa mengurai kemacetan lalu-lintas di ibukota Jakarta,” ujar Dewan Pakar Bidang Transportasi.Seknas Jokowi ini mengingatkan. Lebih lanjut Peter mengimbau Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengkaji ulang detail pembangunan Ring Semanggi. Pasalnya, jumlah volume kendaraan sudah tidak tertampung oleh jalan. Selain itu, desain pembangunan simpang susun Semanggi yang berbentuk seperti telinga justru akan menambah kemacetan. Sebab di beberapa titik berbentuk bottleneck atau menyempit. “Dari hasil hitungan saya, jika di bottleneck ada 20 mobil yang lewat dengan kecepatan rata-rata 30 kilometer per jam, itu sudah menghabiskan tujuh menit. Bayangkan jika ada 2.000 mobil yang lewat sana, berapa lama?” kata  mantan sopir yang juga lulusan teknik sipil Jerman ini. Senada dengan itu, Ketua Seknas Jokowi, Muhammad Yamin berharap proyek pembangunan revitalisasi Semanggi tidak menjadi masalah baru di masa mendatang. Ia mengingatkan kepada Pemprov DKI Jakarta agar tidak hanya mengandalkan simpang susun Semanggi untuk mengantisipasi kemacetan. "Jangan sampai kalau DKI bangun simpang susun Semanggi cuma seperti bom waktu. Tidak macet setahun dua tahun, habis itu masalah muncul lagi," kata Yamin. Menurut Yamin, ada  beberapa kebijakan lain untuk mengantisipasi kemacetan di ibukota. Salah satunya dalah  mengkaji pembatasan masuknya kendaraan dari luar kota ke Jakarta, serta memperluas pembangunan moda transportasi massal yang berbasis rel Jabodetabek dan lain-lain. Selain itu, Yamin juga menyoroti kebijakan yang dianggapnya tidak dilibatkan para pemangku kepentingan dan partisipasi masyarakat dalam hal pengambilan keputusan. Padahal, segala kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan publik, sudah semestinya publik dilibatkan di dalamnya. "Kalau kita perhatikan, kebijakan-kebijakan itu kebanyakan diambil sepihak, diambil tidak melibatkan banyak pihak. Kita ingin adanya partisipasi publik tentang kebijakan publik terkait dengan pembangunan ring semanggi," terangnya. Kepala Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta Yusmada Faizal, yang diutus Gubernur Ahok untuk menghadiri diskusi ini  mengakui bahwa konsep lingkaran sudah tidak bisa diberlakukan lagi di jalan arteri karena volume kendaraan terlampau besar. Namun pemerintah merencanakan pembangunan simpang susun Semanggi setelah melakukan survei selama lima tahun. “Kementerian PU (Pekerjaan Umum) sejak 2011 sudah mengadakan kajian di Semanggi, Kuningan, dan Senayan. Hasilnya, pertemuan jalur cepat dan lambat (weaving) yang paling membuat macet,” tuturnya. “Rekomendasinya itu membuat jalur langsung (direct ramp) HI-Slipi untuk menghilangkan weaving arah timur-selatan dan arah Blok M-Pancoran untuk arah utara-selatan. Tapi akhirnya kita pilih jalur yang sekarang karena yang macet adalah bagian kolong.”...

Page 1 of 4 1 2 4

Berita Terbaru

Like Facebook Page Kami

Kategori Berita

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.