Jadi partai politik yang besar itu banyak sekali tantangannya, yg benci dan iri bisa jauh lebih intens dari pada yg sayang dan peduli.

Ambil contoh, pasangan Gus Ipul danBung Anas yang dicalonkan di Jawa Timur. Banyak yg nyinyir, kenapa PDIP tidak mencalonkan kader sendiri? Kenapa mencalonkan kader orang lain? Menjadi partai terbuka salah, tertutup dinista. Tapi itu biasa dalam hidup ini kan? Kaum nyinyiris tak pernah habis kata2.

Tapi coba lihat lebih dalam. Jawa Timur adalah basis NU dan bagi PDIP, NU adalah saudara kandung. Keduanya punya ikatan batin yg sama dalam menjaga Pancasila dan NKRI. NU lah yg mendukung bahkan mengusulkan agar 1 Juni ditetapkan sbg Hari Lahir Pancasila. PDIP mendukung ditetapkannya Hari Santri. Keduanya adalah tulang punggung negara, Pancasila (Nasionalis) dan Santri (agamis).

Jadi jika PDIP memberi kehormatan pada NU dan PKB di Jatim, itu adalah sesuatu yg baik dan natural. Apalagi kedua tokoh itu keduanya adalah NU sekaligus keduanya adalah PDIP. Gus Ipul pernah jadi kader PDIP dan mantan Ketua Umum GP Ansor. Bung Anas diusung dlm 2 kali pilkada Banyuwangi, sekarang Kader PDIP dan duku bekas ketua PB IPNU. Jadi keduanya adalah NU dan keduanya adalah PDIP.

Gus Ipul telah nembuktikan dirinya menjadi seorang santri yg nasionalis dan menjadi Wakil Gubernur selama 10 tahun tanpa konflik dan cerita negatif. Dia adalah cerita tentang kesabaran revolusioner, krn dengan tekun mendampingi Gubernur selama 2 periode.

Di sisi lain, Azwar Anas dua kali menjadi Bupati Banyuwangi, dan cerita tentang dia adalah cerita tentang bgm sebuah daerah pelisok bisa maju dgn berbagai terobosan. Dia adalah kisah orang muda yg tekun dalam bekerja dan kongkrit dalam eksekusi. Berbagai prestasi telah diraihnya dgn pengakuan tingkat nasional dan internasional.

Apakah mereka pasti menang? Apalagi melawan Khofifah, Mentri Sosial yg turun kelas ingin menjadi Gubernur? Sebuah posisi yg sudah dua kali dia coba rebut dan kalah?? Tentu itu adalah masalah taktik dan strategi, memastikan dukungan di tapal kuda dan memaksimalkan dukungan di daerah Mataraman. Tetapi jauh di atas itu, memenangkan kontestasi politik adalah juga urusan “takdir”. Jika langit sudah menentukan maka tak ada kuasa di dunia yg bisa membaliknya.

Apapun itu, siapapun kelak yg menjadi pemimpin di Jawa Timur, mudah2an rakyat lah yg jadi pemenang. Mudah-mudahan pilgub Jatim menjadi sesuatu yg mendorong energi positif. Bukan menjadi sumber perpecahan seperti yg terjadi dalam pilgub DKI yg telah usai.

Mari berharap agar semua bertarung dgn ksatria, dgn akal sehat dan nurani yg terjaga.

Deddy Sitorus