Direktur Eksekutif The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus menfasilitasi Bupati Aceh Barat, Ramli MS, dan rombongan ke Korea Selatan sejak 20 November hingga 27 November 2017, untuk melaksanakan pertemuan dengan sejumlah Pengusaha dan Walikota Gumi City, Pusat Industri di Korea Selatan.

Pertemuan tersebut adalah wujud apresiasi dan tindak lanjut atas kesepakatan 9 November lalu antara Presiden Jokowi dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in tentang Peningkatan Status Kemitraan antara Indonesia dengan Korea Selatan.

Nilai Investasi Korea Selatan di Indonesia telah meningkat pada semester 1 / 2017 hampir dua kali lipat dari semester sebelumnya, yaitu sebesar 29,3 persen.

Dengan adanya pertemuan di Korea Selatan tersebut, diharapkan akan mempercepat program Investasi Korea Selatan di Aceh Barat sebagai realisasi program dari Bupati Aceh Barat, Ramli MS yaitu ekonomi pro-rakyat pada sektor perkebunan dan perindustrian, insyaAllah kegiatan investasi mulai dilaksanakan pada bulan Januari 2018.

Teuku Neta Firdaus, Direktur Eksekutif The Jokowi Center menjelaskan 3 (tiga) hal yang menjadi inti dari pertemuan di Korea Selatan yaitu ; percepatan realisasi investasi Korea Selatan di Aceh Barat melalui peningkatan pelayanan yang nyaman bagi investor, upaya membuka lapangan kerja di Aceh Barat dan upaya nyata mendorong pertumbuhan ekonomi daerah Aceh Barat. Ketiga hal tersebut diharapkan dapat terwujud dalam 2-3 bulan mendatang.

Selain melaksanakan pertemuan kerjasama dengan Korea Selatan, Direktur Eksekutif The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus juga telah berencana untuk menghadirkan investor dari Jepang guna membangun sektor perindustrian yang lebih modern dan canggih di wilayah Barat Aceh.

Infrastruktur pelabuhan di wilayah pesisir barat Aceh, seperti pelabuhan, saat ini kondisinya belum memadai. Direktur eksekutif The Jokowi Center Teuku Neta Firdaus telah menyampaikan permohonan pembangunan infrastruktur pelabuhan yang memungkinkan bagi kapal-kapal besar untuk berlabuh. Kehadiran infrastruktur pelabuhan di pesisir Aceh Barat akan meningkatkan produktivitas ekspor/impor karena tidak lagi harus melalui Belawan atau Krueng Geukuh.

Pemerintah bersama masyarakat, khususnya wilayah Barat Selatan Aceh, perlu berlari mengejar ketertinggalan melalui kerja bersama, agar permasalahan pengangguran dapat diminimalisir dan pendapatan daerah dapat meningkat. Untuk mewujudkan itu, pemerintah dan masyarakat perlu kerja bersama menggelar “karpet merah” bagi investor. Hubungan dengan investor adalah wujud dari “habluminannas”.

Melalui “habluminannas” kita tingkatkan pasti “habluminallah” tercapai. Apabila masyarakat makmur sejahtera, ibadahpun akan menjadi lebih khusyuk.

Mimpi besar pemerintahan di Aceh , perlu disertai pemberian ruang yang nyaman bagi investor, agar iklim investasi di Aceh dapat berjalan lancar dan meningkat. Tidak mungkin selamanya pembangunan daerah di Aceh mengandalkan APBK (Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten), jangan sampai terjadi “peuhabeh pade bijeh”, istilah bahasa Aceh yang artinya “menghabiskan belanja dapur”.

Untuk mendukung keberhasilan investasi, pihak investor harus memperlihatkan bukti keseriusan investasi khususnya kepada pemerintah setempat. Demikian juga sebaliknya, pemerintah daerah dan masyarakat setempat sebagai tuan rumah, harus membuka diri dan kerja nyata bersama dengan investor, untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing.

Seoul, 13 November 2017

Salam Hormat,
The Jokowi Center

Teuku Neta Firdaus
Direktur Eksektutif